LAPORAN
PRAKTIKUM DASAR-DASAR PROTEKSI TANAMAN
PENGUKURAN
PENYAKIT : PENGHITUNGAN INTENSITAS PENYAKIT
Oleh
:
Moh.
Arif Furqon
A24120137
Dosen
:
Ir.
Ivonne O Sumarau M.Si
DEPARTEMEN
PROTEKSI TANAMAN
FAKULTAS
PERTANIAN
INSTITUT
PERTANIAN BOGOR
2013
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Hambatan yang terjadi
dalam pengembangan tanaman adalah adanya gangguan hama dan penyakit baik
dilapangan maupun setelah dipanen. Timbulnya gejala penyakit disebabkan karena
adanya interaksi antara tanaman inang dan patogen. Penamaan gejala penyakit
dapat didasarkan kepada tanda penyakit, perubahan bentuk, tanaman, pertumbuhan
tanaman dan sebagainya.
Sebagai akibat terganggunya pertumbuhan
tanaman oleh penyakit, maka akan terjadi perubahan pada tanaman dalam: bentuk, ukuran,
warna, tekstur dan lain-lain. Perubahan tersebut seringkali merupakan gejala
yang khas untuk penyakit tertentu.. Sering kali patogen penyebab penyakit
tersebut dapat ditemukan pada jaringan yang terserang (internal) atau pada
bagian permukan jaringan (eksternal) dalam bentuk tubuh buah, sclerotium dan
sebagainya.
Penentuan besarnya
intensitas penyakit dalam suatu tanaman cenderung bersifat subyektif, antara
ahli yang satu dengan ahli yang lainnya atau antara daerah yang satu dengan
daerah yang lain cenderung tidak sama dalam menentukan tingkat keparahan suatu
tanaman tertentu. Data yang bersifat kuantitatif sangat diperlukan dalam
berbagai kepentingan terutama untuk kepentingan pengelolaan/pengendalian
penyakit pada tanaman. Besarnya atau intensitas penyakit tanaman dapat
dinyatakan dengan istilah kejadian penyakit dan keparahan penyakit. Penyakit-penyakit
yang gejala dan akibatnya bervariasi, maka intensitas penyakit dinyatakan
dengan keparahan penyakit. Pengukuran keparahan penyakit biasanya dilakukan
pada penyakit bercak dan karat pada daun (Djafarudin, 2001).
1.2 Tujuan
Tujuan
dari praktikum ini adalah :
1. Mengetahui
seberapa besar kejadian penyakit bercak pada daun singkong yang
disebabkan oleh Cercospora
2. Mengetahui
tingkat keparahan penyakit bercak pada daun singkong yang disebabkan oleh Cercospora
3. Mengetahui
cara pengendalian yang tepat penyakit Cercospora
pada daun singkong.
BAB
II
BAHAN
DAN METODE
2.1 Alat
dan Bahan
Bahan yang digunakan
pada praktikum ini adalah 70 helai daun singkong sedangkan alat yang digunakan
adalah alat tulis dan kalkulator.
2.2 Metode
Metode yang dilakukan adalah dengan
melakukan pengamatan langsung seberapa banyak jumlah bercak atau penyakit yang
ada pada daun singkong. Kemudian membedakan tingkat keparahannya dengan
mengelompokkan kedalam skor-skor tertentu. Langkah-langkah dalam
menghitung
menggunakan metode scoring yaitu, pertama ambil sample daun singkong yang sakit
10 lembar daun. Amati luas serangan yang terjadi pada tiap daun, nyatakan luas
serangan tadi dalam bentuk persen. Kemudian beri skor sesuai dengan rentang
nilai dari table skor. Pengamatan dan pemberian skor dilakukan pada setiap daun
singkong. Setelah keseluruhan daun
diberi skor, lalu hitung keparahan penyakit. Metode perhitungan dengan proporsi
langsung juga diawali dengan menghitung persentase luas daun yang terserang
bercak. Keseluruhan daun singkong
diamati dan ditentukan persentase luas bercaknya satu per satu.
BAB
III
HASIL
DAN PEMBAHASAN
3.1 Hasil Pengamatan
Daun ke-
|
Pengamatan
kerusakan penyakit
|
|||||||||||||
Ulangan
1
|
Ulangan
2
|
Ulangan
3
|
Ulangan
4
|
Ulangan
5
|
Ulangan
6
|
Ulangan
7
|
||||||||
%
|
Skor
|
%
|
Skor
|
%
|
Skor
|
%
|
Skor
|
%
|
Skor
|
%
|
Skor
|
%
|
Skor
|
|
1
|
1
|
1
|
0
|
0
|
20
|
3
|
4
|
1
|
3
|
1
|
5
|
1
|
30
|
4
|
2
|
6
|
2
|
2
|
1
|
2
|
1
|
3
|
1
|
2
|
1
|
30
|
4
|
15
|
3
|
3
|
5
|
1
|
4
|
1
|
5
|
1
|
3
|
1
|
0
|
0
|
10
|
2
|
5
|
1
|
4
|
10
|
2
|
6
|
2
|
30
|
4
|
3
|
1
|
1
|
1
|
15
|
3
|
10
|
2
|
5
|
0
|
0
|
4
|
1
|
15
|
3
|
5
|
1
|
6
|
2
|
15
|
3
|
5
|
1
|
6
|
30
|
4
|
3
|
1
|
1
|
1
|
0
|
0
|
30
|
4
|
5
|
1
|
9
|
2
|
7
|
3
|
1
|
8
|
2
|
26
|
4
|
2
|
1
|
15
|
3
|
5
|
1
|
14
|
3
|
8
|
7
|
2
|
5
|
1
|
5
|
1
|
0
|
0
|
16
|
3
|
0
|
0
|
13
|
3
|
9
|
4
|
1
|
12
|
3
|
45
|
5
|
3
|
1
|
7
|
2
|
3
|
1
|
2
|
1
|
10
|
11
|
3
|
40
|
4
|
10
|
2
|
3
|
1
|
4
|
1
|
2
|
1
|
2
|
1
|
∑
n x v
|
17
|
16
|
25
|
8
|
18
|
17
|
21
|
|||||||
N
x V
|
60
|
60
|
60
|
60
|
60
|
60
|
60
|
|||||||
Severitas
Penyakit
|
28.33%
|
26.67%
|
41.67%
|
13.33%
|
30%
|
28.33%
|
35
%
|
|||||||
Rata-rata
Severitas Penyakit
|
29.05
%
|
|||||||||||||
Tabel
Pengamatan Perhitungan Severitas Penyakit Bercak Cercospora pada daun singkong
Perhitungan
kejadian penyakit pada kelompok satu:
Insidensi penyakit =
x 100 %
=
x
100 %
= 90 %
Perhitungan
severitas penyakit:
1.
Severitas penyakit ulangan 1=
x
100%
=
=
x100% = 28.33 %
2. Severitas
penyakit ulangan 2 =
x100%
=
x100% = 26.67%
3. Severitas
penyakit ulangan 3 =
x
100%
=
x100% = 41.67%
4. Severitas
penyakit ulangan 4 =
x
100%
=
x100% = 13.33%
5. Severitas
penyakit ulangan 5 =
x
100%
=
x100% = 30%
6. Severitas
penyakit ulangan 6 =
x
100%
=
x100% = 28.33%
7. Severitas
penyakit ulangan 7 =
x
100%
=
x100% = 35%
3.2 Pembahasan
.
Pengukuran penyakit
sering kali masih bersifat subjektif sehingga dalam mengkuantitatifkan penyakit
perlu dibuat standar diagram yang spesifik untuk masing-masing jenis tanaman,
patogen, penyakit, lokasi dan bagian tanaman yang terserang, misalnya daun
muda, daun tua, atau keseluruhan daun (Sinaga, 2006). Diseases severity (DS)
atau intensitas penyakit adalah proporsi area tanaman yang rusak atau dikenai
gejala penyakit karena serangan patogen dalam satu tanaman. Intensitas penyakit
merupakan ukuran berat-ringannya tingkat kerusakan tanaman oleh suatu penyakit
baik pada populasi atau individu tanaman (Adnan, 2009). Sedangkan kejadian
penyakit (KiP) adalah persentase jumlah tanaman yang terserang patogen (n) dari
total tanaman yang diamati (N).
Sangat penting bagi
kita untuk mengetahui seberapa parah intensitas penyakit yang ada pada suatu
area tanam dan menentukan tingkat serangan pertanaman dalam populasi. Oleh
karena itu, terdapat beberapa metode untuk menghitung tingkat intesitas atau
keparahan penyakit. Salah satu metode yang digunakan adalah metode kelas
serangan (scoring). Metode ini cocok digunakan untuk penyakit-penyakit yang
menunjukkan gejala parsial (tidak sistemik) contohnya bercak daun, dll. Pada
metode serangan atau skoring menggunakan pembagian kelas atau skor dalam
menilai skala kerusakan tanaman. Terdapat lima kelas ditambah satu kelas yaitu
0. Pada daun singkong yang diamati, penilaian tergantung dari seberapa luas (%)
permukaan daun yang terserang bercak lalu diberi skor sesuai dengan selang
nilai kelas serangannya.
Pada praktikum ini praktikan
mengamati daun singkong yang terkena penyakit bercak daun yang disebabkan oleh Cercospora heningsii. Gejala yang
diakibatkan penyakit ini adalah adanya bercak kecoklatan yang tampak jelas.
Bercak tampak pada sisi atas dan sisi bawah daun singkong, pada sisi bawah daun
bercak kurang jelas dan ditengah terdapat warna keabu-abuan yang merupakan
konodiofor dan konodium jamur. Bercak berbentuk bulat dengan garis tengah 3-12
mm dengan bentuk agak bersudut-sudut dan kurang teratur karena dibatasi oleh
tepi daun atau tulang-tulang daun. Menurut hasil pengamtan kejadian penyakit yang
terdapat pada daun singkong dari kelompok 1 adalah 90% sedangkan severitas
penyakitnya adalah 28.33%. dari hasil pengamatan rata-rata severitas penyakit
yang didapat dari satu kelas praktikum adalah 29.05 %, hasil tersebut
menunjukkan tingkat keparahan penyakit yang terdapat pada daun singkong.
BAB
IV
KESIMPULAN
Kejadian
penyakit dan keparahan penyakit untuk tiap tanaman berbeda-beda. Hal ini
tergantung pada varietas dan ketahanan dari tumbuhan. Keparahan penyakit bercak
daun pada daun singkong disebabkan oleh Cercospora heningsii. Kejadian penyakit
pada daun singkong adalah 905 sedangkan tingkat keparahannya adalah 29.05%.
DAFTAR
PUSTAKA
Anonim, 2008.
Penyakit-Penyakit Penting Tanaman Kacang Tanah. [terhubung berkala].
http://kliniktanaman.blogspot.com/2008/12/penyakit-penyakit-penting-tanaman
kacang tanah.html.[10 Desember 2013].
Djafarudin.
2001. Dasar-dasar Perlindungan Tanaman
(Umum). Bumi Aksara. Jakarta
Semangun,
Haryono. 1996. Penyakit-penyakit Tanaman
Pangan Di Indonesia.
Yogyakarta:Gadjah Mada University Press.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar